andinadyahratnasari
-
10:40:01 am on October 10, 2009 |
Tari balet berpengaruh positif terhadap perkembangan fisik dan psikis anak karena bisa dijadikan ajang bagi mereka untuk berlatih membentuk tubuh sekaligus kepribadian.
Menurut pengurus Komisi Nasional Anak (Komnas Anak) Seto Mulyadi, di Jakarta, baru-baru ini, peranan tarian yang berasal dari Eropa itu juga sangat besar bagi kecerdasan emosional anak. Dengan latihan balet yang terus-menerus, anak ditempa dan terbiasa dapat menahan diri serta dilatih untuk bisa menguasai dan mengendalikan dirinya dengan baik.Selain itu, balet juga ada pengaruhnya dalam membentuk kecerdasan sosial bagi anak. “Latihan balet mengajari anak untuk pandai bersosialisasi, berkelompok, dan bekerjasama,” kata Kak Seto.
Kecerdasan spiritul pun dapat turut terbentuk dengan baik melalui latihan balet karena ada makna-makna yang bersifat spiritual yang diajarkan dan disisipkan dalam tema-tema pementasan balet, misalnya kebaikan hati, permaafan, dan sebagainya.
“Ini perlu dikembangkan pada anak-anak Indonesia karena suatu saat mereka juga akan sampai pada suatu jaringan internasional balet. Dan ini baik untuk mereka,” katanya.
Sementara itu, pimpinan Balet Sumber Cipta, Pondok Pinang, Jakarta Selatan, Farida Oetoyo, mengatakan, untuk mendapatkan bibit penari balet profesional memang harus dilatih sejak kecil.
“Setidaknya ketika anak masih berusia lima hingga tujuh tahun. Ini sangat baik untuk memulai mengasah mereka,” katanya.
Pemerhati anak sekaligus pengurus Komisi Nasional (Komnas Anak), Seto Mulyadi, mengatakan, sudah saatnya “kita” menghapus citra balet sebagai tari yang mahal sebab semua anak berhak dan bisa belajar tarian asal Eropa klasik itu.
“Siapa bilang balet itu mahal, saya pikir sudah banyak bukti kalau penari-penari balet kita yang sudah profesional itu justru berasal dari keluarga biasa-biasa saja bahkan kalangan menengah ke bawah,” kata pria yang akrab disapa Kak Seto itu di Jakarta.
Kak Seto mencontohkan salah satu penari balet dari Balet Sumber Cipta, Pondok Pinang, Jakarta Selatan, pimpinan Farida Oetoyo juga berasal dari keluarga menengah ke bawah.
“Dia bisa menjadi salah satu penari balet utama yang diperhitungkan padahal pekerjaan ibunya hanyalah penjual di warung bakmi. Saya tahu karena saya kerap makan bakmi di warung ibunya itu,” kata Kak Seto.
Menurut dia, hal terpenting adalah tidak menghalangi minat anak, bila memang anak mempunyai keinginan kuat untuk berlatih balet maka sebaiknya dituruti dan diarahkan karena kemungkinan besar bakat sang anak ada di bidang itu.
Kak Seto mengatakan, semua anak berhak dan dapat mengikuti latihan balet tanpa kekhawatiran pada citra mahal tarian tersebut terutama bagi anggapan para orang tua.
Sementara itu, pimpinan Namarina Balet and Modern Jazz, Maya Tamara, membantah dengan tegas bahwa latihan balet memerlukan alat dan biaya yang mahal.
“Tidak mahal sama sekali, kurang lebih sama bahkan lebih murah daripada les-les untuk anak biasanya, seperti les bahasa Inggris atau les piano,” katanya.
Menurut dia, untuk berlatih balet yang paling dibutuhkan adalah minat, baru kemudian alat seperti sepatu dan stocking serta biaya kursus yang berkisar Rp250 ribu per bulan.
Balet, Bukan Sebatas Tarian
Banyak jenis tarian yang ada di Indonesia, bahkan di dunia. Hampir semua tarian, membutuhkan kemampuan khusus dari si pelaku untuk memadukan gerakan dan lagu. Nih, belia kenalin dengan balet (Prancis: ballet), satu jenis tarian yang udah ada di dunia sejak namanya dicetuskan oleh Balthasar de Beaujoyeulx dalam Ballet Comique de la Royne (1581) yang merupakan ballet comique (drama balet). Nah, pada tahun yang sama, Fabritio Caroso menerbitkan Il Ballarino, yaitu panduan teknis mengenai menari ballet, yang membuat Italia menjadi pusat utama berkembangnya tari balet. (id.wikipedia.org)
Di sebuah ruko dikenal sebagai tempat les ballet di kawasan Taman Kopo Indah II, Bandung, dua orang perempuan muda, serius mengikuti instruksi yang diberikan oleh pelatihnya. Plies, putaran fouettés, et pointe, dan sederet istilah balet lain dalam bahasa Perancis, kudu diingat oleh Stefani Senjaya dan Cindy Senjaya, kakak beradik yang mencoba menekuni tarian yang berkembang sebagai bentuk seni tersendiri di Perancis ini.
“Aku baru gabung selama 3 bulan di tempat les ballet Marlupi ini. Sebelumnya, enggak punya basic menari atau dance apa pun,” kata Stefani, cewek kelas 9 yang sekolah di SMPK 1 BPK Penabur ini. Menurut Ms. Yeni, instruktur balet Marlupi Dance Academy, untuk menguasai tarian jenis ini (misalnya ballet anak) dengan baik, sebetulnya tidak harus dimulai sejak usia balita. “Memulai dari usia dini itu baik, tapi jika di usia belasan masih ingin mencoba, enggak masalah juga. Kelenturan itu bisa dilatih, kok. Menurut pengalaman saya, di umur 10-11 tahun, orang masih bisa kalau ingin belajar atau les ballet.” Jadi ballet anak itu sangat bermanfaat.
Lihat aja Stefani, walau enggak mengejar target untuk menjadi penari ballet profesional, belum terlambat untuk belajar tarian yang meliputi mime, akting, musik, dan tarian itu sendiri. “Saya emang pengen belajar balet klasik dari dulu. Soalnya saya emang seneng yang klasik. Belajar piano pun memilih yang klasik,” ucap Stefani yang juga hobi main ice skating.
Di Marlupi Dance Academy sendiri, setiap murid yang ingin belajar atau les ballet, akan mendapatkan kurikulum yang dibuat oleh Royal Academy of Dance dari London dan Beijing Dance Academy-China. “Semua tingkatan, ada silabusnya. Jadi enggak sembarangan pelajaran yang dikasih, semuanya sesuai dengan kurikulum dari Royal,” lanjut Ms. Yeni lagi. Tiap ujian kenaikan tingkat pun, pengujinya bisa saja didatangkan langsung dari London, lho.
Uhm, pada saat latihan aja, udah kebayang tingkat kesulitan mempelajari balet ini, gimana pas lagi ujian ya? Hehe, jangan dilihat dari sulitnya, tapi dari apa yang bisa kamu dapetin jika tekun mempelajari balet. “Balet itu bisa ngebentuk tubuh, jadi badan akan lebih bagus. Lalu, melatih imajinasi kita. Selalu ada roleplay waktu latihan. Plus, jadi lebih peka terhadap musik, terutama musik klasik, musik pengantar balet,” ucap Ms.Yeni.
Perkembangan Balet di Lampung Menggembirakan
Perkembangan ballet di Provinsi Lampung saat ini sangat baik dan menggembirakan, dengan jumlah peminat yang semakin besar dan prestasinya juga cukup membanggakan.
“Animo masyarakat mempelajari ballet saat ini semakin bertambah, saya rasa sudah saatnya pemerintah daerah memperhatikan dan mulai mengembangkan potensi itu,” kata Aktivis Lampung Synergi Initiatif, Rini Markapi, di Bandarlampung.
Lampung Synergi Initiatif, adalah sebuah perkumpulan pengusaha yang peduli terhadap pariwisata di Provinsi Lampung.
Menurut dia, pertunjukan balet dapat menjadi salah satu andalan pariwisata dan menaikan citra Provinsi Lampung sebagai provinsi dengan budaya yang heterogen, sehingga menjadi persimpangan dan persinggahan semua bentuk kebudayaan di Indonesia, bahkan dunia.
“Balet dapat diterima oleh semua pihak, karena bukan hanya berbicara tentang budaya lokal, melainkan budaya nasional dan internasional,” kata Rini.
Dia menambahkan, upaya yang dilakukan pemerintah itu dapat dilakukan dengan penambahan pembangunan fasilitas gedung pertunjukan yang memadai, pembangunan sekolah khusus balet (les ballet), atau bantuan dalam bentuk wadah yang memberikan binaan dan informasi tentang seputar perkembangan balet.
Selama ini, dia mengatakan, pengembangan balet di Provinsi Lampung hanya dilakukan oleh pihak swasta, mulai dari memberikan pengajaran tentang balet atau semacam les ballet, mencari informasi tentang perlombaan balet, hingga mengikuti perlombaan balet di tingkat internasional.
“Pebalet Provinsi Lampung sudah teramat sering mengikuti festival balet tingkat internasional dalam dua tahun terakhir, namun hal itu luput dari perhatian pemerintah daerah, dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata,” kata Rini.
Menurut dia, apabila ada pembinaan yang berjenjang dari pemerintah dimulai dari ballet anak, bakat-bakat besar di bidang balet dari Provinsi Lampung itu akan berkembang dan akan terus berjenjang hingga menjadi pebalet profesional.
“Karena belum adanya pembinaan yang mendukung, mereka yang telah ikut perlombaan internasional itu tidak memiliki pendidikan spesialisasi balet lanjutan, dan balet hanya menjadi sebatas hobi,” kata dia.
Hal yang sama juga diungkapkan salah satu pebalet Lampung, Prisca Charity (15), yang mengatakan tentang harapannya agar pemerintah mulai melirik balet sebagai salah satu kesenian yang cukup diperhitungkan. Pembinaan mulai dari ballet anak harus dikembangkan.
“Saya berharap pemerintah lebih banyak membangun fasilitas balet termasuk tempat les ballet, atau paling tidak kita sudah mulai dipikirkan untuk dibina secara lebih serius,” kata Juara tiga modern dance se-Asia Pasifik 2008, yang kini bersekolah di kelas IX SMA Xaverius itu.
Sebelumnya, Susy Enterprise, sebuah tempat les ballet di Provinsi Lampung dan Palembang, menyelenggarakan pementasan balet dan tari Kreasi di Taman Budaya Lampung.
Pementasan itu menampilkan 18 tari balet yang dikreasikan dengan pendekatan pop, dan melibatkan hampir 60-an penari balet di Lampung, yang belajar di sekolah balet Susy Enterprise.